Tampilkan postingan dengan label Catcher in the Rye. Tampilkan semua postingan
Ada seorang kawan saya yang punya novel ini, menurutnya novel ini cukup fenomenal dan sempat dilarang juga diterbitkan dibeberapa negara, bahkan katanya novel ini adalah inspirasi bagi beberapa kasus pembunuhan yang terkenal, sebut saja
ketika pembunuh John Lennon, Mark David Chapman, "diciduk" polisi (apa si istilah yang tepat..?), konon kabarnya novel ini masih ada dalam genggamannya. Novel ini juga konon menjadi bahan inspirasi calon pembunuh Ronald Reagan, dan konon lagi beritanya juga oleh beberapa pembunuh berantai lain. Memangnya apa kisah yang dituturkan novel ini?
Nah karena penasaran, akhirnya pinjem lah saya novel ini, dengan kemampuan bahasa inggris yang seadanya(novel teman saya ini belum diterjemahin, jadi masih pake Bahasa Inggris),,mungkin akhirnya saya mulai memahami kenapa novel ini sangat terkenal..
Review sekilas tentang novel ini dulu yaa..:
Novel ini menceritakan Holden Caulfield, anak yang tidak lulus sekolah, namun sebenarnya cukup cerdas, terbukti ia diterima di Pencey Prep, sekolah paling favorit di Agerstown, Pensylvania. Pencey adalah kesekian kalinya yang disinggahi Holden setelah ia dikeluarkan dari sekolah-sekolah sebelumnya dengan kasus yang nyaris sama, yaitu dari 5 pelajaran yang diujikan hanya satu ujian yang lulus yaitu: Bahasa Inggris.
Peristiwa keluarnya si tokoh utama novel ini tersebut terjadi pada bulan Desember menjelang hari Natal. Sebenarnya, Holden masih punya waktu tiga hari lagi sebelum benar-benar harus hengkang dari Pencey. Namun, pertengkaran dengan teman sekamarnya, memaksa ia harus meninggalkan sekolahnya itu lebih cepat.
Dalam kegalauannya (halaah) yang tak tahu harus ke mana, ia juga gak berani pulang ke rumah, Holden lantas terdampar dari satu penginapan ke penginapan lainnya, menghabiskan sisa uang sakunya di bar dan klub-klub malam dan bertingkah layaknya seorang dewasa (yang justru buat saya pribadi membuat terharu dan kasihan).
Holden, memandang sekitarnya dengan kepekaan tinggi, namun penuh kemarahan atas segala kepalsuan orang dewasa. Ia membenci hampir semua orang dan segala hal dalam hidupnya, kecuali kedua orang adiknya: Phoebe dan Allie, yang menurutnya "murni tanpa dosa". Phoebe pulalah yang kemudian membuat Holden membatalkan niatnya untuk kabur dari rumah selamanya.
Nah yang saya coba mengerti dari novel ini adalah sebenarnya novel ini gak ada tu secara eksplisit menjelaskan cara-cara bagaimana membunuh, bahkan memotivasi seseorang menjadi pembunuh pun tidak (buktinya saya! o.O ). emang si banyak kata-kata kasar dalam novel ini, dan itu merupakan ekspresi kemarahan si Holden terhadap lingkunganny. Dalam novel ini memang terlihat jelas kemarahan dan kritik-kritik dari seorang anak muda yang merasa dirinya adalah korban dari sistem, ini yang menurut saya bisa saja menjadi pendorong pembaca yang punya masalah dan mengalami nasib yang hampir sama dengan Holden untuk melakukan hal-hal nekad. Mungkin para pembunuh yang membunuh setelah membaca novel ini adalah para pembaca yang marah, yang merasa tidak ada yang memahaminya, dan ingin mengakhiri busuknya kehidupannya dan ingin meluapkan amarahnya pada lingkungannya dan merasa harus melakukan sesuatu.
Karena sesungguhnyalah, Holden bukanlah benar-benar seorang pemarah. Ia hanya berani mengumpat dan mengomel dalam hati.
Moral of the story:
Konon, masa remaja adalah masa paling sulit dalam hidup seseorang (gak juga si..). Masa-masa labil saat seseorang mencoba menemukan identitas dan jati diri. Novel ini saya bilang sangat ekspresif memaparkan gejolak jiwa, emosi, mimpi-mimpi, serta soal betapa repotnya menjadi seorang remaja (Amerika). J.D. Salinger, sang penulis novel, juga berhasil menghidupkan karakter utama. Dan ia mengakhiri novel psikologi ini dengan sangat menyentuh, yang menimbulkan rasa haru. Novel ini juga memberi perenungan (bagi saya ) bahwa ketika kita jujur memandang dunia, ternyata ada Holden Caulfield dalam setiap diri kita. Nah tinggal bagaimana sikap kita masing-masing untuk mengatasi masalah, apakah kita juga akan terbawa emosi seperti para pembunuh-pembunuh itu?
Read More … Catcher in The Rye: Inspirasi Para Pembunuh??
ketika pembunuh John Lennon, Mark David Chapman, "diciduk" polisi (apa si istilah yang tepat..?), konon kabarnya novel ini masih ada dalam genggamannya. Novel ini juga konon menjadi bahan inspirasi calon pembunuh Ronald Reagan, dan konon lagi beritanya juga oleh beberapa pembunuh berantai lain. Memangnya apa kisah yang dituturkan novel ini?
Nah karena penasaran, akhirnya pinjem lah saya novel ini, dengan kemampuan bahasa inggris yang seadanya(novel teman saya ini belum diterjemahin, jadi masih pake Bahasa Inggris),,
Review sekilas tentang novel ini dulu yaa..:
Novel ini menceritakan Holden Caulfield, anak yang tidak lulus sekolah, namun sebenarnya cukup cerdas, terbukti ia diterima di Pencey Prep, sekolah paling favorit di Agerstown, Pensylvania. Pencey adalah kesekian kalinya yang disinggahi Holden setelah ia dikeluarkan dari sekolah-sekolah sebelumnya dengan kasus yang nyaris sama, yaitu dari 5 pelajaran yang diujikan hanya satu ujian yang lulus yaitu: Bahasa Inggris.
Peristiwa keluarnya si tokoh utama novel ini tersebut terjadi pada bulan Desember menjelang hari Natal. Sebenarnya, Holden masih punya waktu tiga hari lagi sebelum benar-benar harus hengkang dari Pencey. Namun, pertengkaran dengan teman sekamarnya, memaksa ia harus meninggalkan sekolahnya itu lebih cepat.
Dalam kegalauannya (halaah) yang tak tahu harus ke mana, ia juga gak berani pulang ke rumah, Holden lantas terdampar dari satu penginapan ke penginapan lainnya, menghabiskan sisa uang sakunya di bar dan klub-klub malam dan bertingkah layaknya seorang dewasa (yang justru buat saya pribadi membuat terharu dan kasihan).
Holden, memandang sekitarnya dengan kepekaan tinggi, namun penuh kemarahan atas segala kepalsuan orang dewasa. Ia membenci hampir semua orang dan segala hal dalam hidupnya, kecuali kedua orang adiknya: Phoebe dan Allie, yang menurutnya "murni tanpa dosa". Phoebe pulalah yang kemudian membuat Holden membatalkan niatnya untuk kabur dari rumah selamanya.
Nah yang saya coba mengerti dari novel ini adalah sebenarnya novel ini gak ada tu secara eksplisit menjelaskan cara-cara bagaimana membunuh, bahkan memotivasi seseorang menjadi pembunuh pun tidak (buktinya saya! o.O ). emang si banyak kata-kata kasar dalam novel ini, dan itu merupakan ekspresi kemarahan si Holden terhadap lingkunganny. Dalam novel ini memang terlihat jelas kemarahan dan kritik-kritik dari seorang anak muda yang merasa dirinya adalah korban dari sistem, ini yang menurut saya bisa saja menjadi pendorong pembaca yang punya masalah dan mengalami nasib yang hampir sama dengan Holden untuk melakukan hal-hal nekad. Mungkin para pembunuh yang membunuh setelah membaca novel ini adalah para pembaca yang marah, yang merasa tidak ada yang memahaminya, dan ingin mengakhiri busuknya kehidupannya dan ingin meluapkan amarahnya pada lingkungannya dan merasa harus melakukan sesuatu.
Karena sesungguhnyalah, Holden bukanlah benar-benar seorang pemarah. Ia hanya berani mengumpat dan mengomel dalam hati.
Moral of the story:
Konon, masa remaja adalah masa paling sulit dalam hidup seseorang (gak juga si..). Masa-masa labil saat seseorang mencoba menemukan identitas dan jati diri. Novel ini saya bilang sangat ekspresif memaparkan gejolak jiwa, emosi, mimpi-mimpi, serta soal betapa repotnya menjadi seorang remaja (Amerika). J.D. Salinger, sang penulis novel, juga berhasil menghidupkan karakter utama. Dan ia mengakhiri novel psikologi ini dengan sangat menyentuh, yang menimbulkan rasa haru. Novel ini juga memberi perenungan (bagi saya ) bahwa ketika kita jujur memandang dunia, ternyata ada Holden Caulfield dalam setiap diri kita. Nah tinggal bagaimana sikap kita masing-masing untuk mengatasi masalah, apakah kita juga akan terbawa emosi seperti para pembunuh-pembunuh itu?