Tampilkan postingan dengan label Books Review. Tampilkan semua postingan
Saya mendapatkan buku spesial biografi Steve Jobs ini dari orang yang juga spesial, semuanya spesial sampai-sampai setelah hampir 3 bulan baru saya selesai membacanya. Bukan karena malas, tapi karena bukunya relatif tebal, dan dalam beberapa hal buku ini sangat berliku, sehingga butuh pengulangan baca disana-sini (mungkin lebih karena otak saya yang pas-pasan). Sudah selesai membaca buku ini, saya menjadi tertarik untuk membahasnya di sini... Buat yang mau baca..Enjoy ^^
Penulis biografi Steve Jobs adalah Walter Isaacson, yang juga pernah sukses menulis beberapa biografi tokoh terkenal seperti Einstein: His Life and Universe (2007) dan Benjamin Franklin: An American Life (2003). Sebagai seorang pecinta buku, saya sangat kagum dengan cara kerja Isaacson menceritakan tokoh yang diangkatnya dalam buku, untuk biografi Steve JObs dia sudah memulai risetnya dengan mewawancarai Steve sejak tahun 2009, bahkan untuk mendapatkan cerita yang lebih obyektif, dia juga mewawancarai lebih dari 100 orang anggota keluarga, teman, rekan bisnis, bahkan saingan Steve Jobs.
Dalam biografi ini, Isaacson menggambarkan kehidupan Steve JObs yang penuh liku, kepribadiannya yang kuat dan kreatif, pola pikirnya yang visioner serta talentanya yang luar biasa yang telah membawa revolusi besar bagi perkembangan industri teknologi (Silicon Valley).
Biografi ini menceritakan dari awal sebelum Steve Jobs menjadi sangat terkenal dan sukses, diceritakan kalau ternyata SJ adalah anak yang "disia-siakan" oleh orang tuanya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkatnya yang sangat menyayanginya dan begitu jujur menceritakan kondisi SJ yang sebenarnya. Mengetahui kalau ternyata dia telah "dibuang" oleh orangtua kandungnya menjadikan dia sangat membenci dan apatis terhadap orang tua kandungnya, disisi lain dia menganggap orang tua angkatnya adalah orang tua yang sebenarnya untuknya. SJ sangat mencintai ayah angkatnya dan menjadikannya panutan.
SJ hidup dengan kreativitasnya, bayangin aja ya pada tahun 1970 & 1980-an dia bisa membuat revolusi pada teknologi komputer (saya sendiri belum lahir waktu itu), kemudian membuat film animasi pada tahun 1990-an & musik digital pada tahun 2000-an. Steve Jobs telah menjadi legenda dalam dunia bisnis karena kreativitas & visinya. Melalui Apple Computer Pixar Studio & iPod Steve telah mengubah dunia bisnis gaya hidup sekaligus teknologi. SJ bukanlah seorang insinyur atau lulusan sekolah bisnis elite. Steve bahkan drop-out dari perguruan tinggi. Konon juga ia terkenal dengan cara berpikir & gaya hidup “anti-kemapanan” (paradox ngliat warisan yang sekarang dia tinggalin..LOL).
Dari sekian ratus halaman biografi ini ada yang menarik bagi saya, di salah satu bagian diceritakan bagaimana Steve Jobs yang mengungkapkan kekagumannya terhadap pendiri Facebook, Mark Zuckerberg. Jobs kagum karena Mark tidak `menjual diri’ serta dominasinya di dunia jejaring sosial. (Ada yang udah nonton Social Network belom, disitu saya naksir berat sama....... yang jadi Mark Zuckerberg, he's total hottie, LOL).
Dilain pihak, terlihat juga sikap SJ yang sangat sinis dengan Bill Gates, udah jadi rahasia umum memang kalo kedua inovator di bidang teknnologi ini sering bersilang pendapat, salah satu pendapat sinis SJ yang cukup membuat saya tertawa adalah ketika dia mengatakan " Bill Gates lebih nyaman dalam dunia filantropis ketimbang teknologi..." seorang Bill Gates dibilang kurang inovasi coba....
Teman-teman, musuh, dan kolega-koleganya juga memberikan pandangan yang sebenarnya tentang gairah, sikapnya yang perfeksionis, obsesinya yang sering membuat orang disekitarnya menjadi marah dan putus aja, jiwa seninya yang unik, sampai kejahata dan paksaan untuk menghasilkan produk yang inovatif.
Biografi ini juga membahas cukup banyak mengenai perkembangan Apple, ini nih yang bikin mumet...hehehe. Dibagian yang lain juga mengulas mengenai sistem operasi Android...(lebih mumet baca bagian ini...) Steve Jobs menganggap Android merupakan PRODUK CURIAN. Bahkan Steve Jobs pernah bersumpah akan mengabdikan seluruh hidupnya hingga nafas terakhir untuk menghancurkan Android...(sekarang SJ udah meninggal, Android masih maju jaya ya..) Isaacson menulis, Steve Jobs sangat marah ketika HTC memperkenalkan ponsel berbasis Android pertamanya di tahun 2010. Apalagi, Steve Jobs mengetahui kalau Android dengan bangganya diperkenalkan sebagai produk yang ternyata menggunakan sejumlah fitur yang sama dengan iPhone.
Dari kesegala kemumetan saya mencoba memahami isi buku ini sepenuhnya ada pelajaran penting yang bisa diambil (me version):
1. Gak ada ceritanya tu kesuksesan yang instan, semua butuh proses, usaha dan waktu... gak ada juga jalan lurus tanpa hambatan, mungkin kadaang akhirnya juga harus menemui jalan buntu, tetapi jika kite terus berusaha mencari jalan itu, akan ada secercah terang untuk kita mulai bangkit (maaf bahasanya jadi makin aneh...)
2. Kegagalan, penolakan, rintangan adalah hal biasa yang harusnya menjadi pewarna kehidupan kita. Jangan sampai hal-hal itu membuat kita menjadi terhenti untuk mencapai impian-impian kita.
3. Kalau belum se-kaya Steve Jobs jangan pernah berpikir untuk menjadi keras kepala o.O
4. Kalau mau berinovasi, eksentrik, unik jangan nanggung-nanggung...jangan selalu ngikutin mainstream yang ada, jadilah dirimu apa adanya, jadilah diri sendiri, bersyukurlah dengan talenta apapun yang kita miliki,,
5. Kerjakan apapun yang kamu suka, jangan mengerjakan sesuatu pekerjaan yang tidak kamu suka karena hasilnya gak akan maksimal..
6. Kalau mau baca buku biografi harus siapin cemilan yang banyak dan suasana yang nyaman, karena butuh konsentrasi yan tinggi untuk bisa setidaknya mengerti apa yang ditulis si penulis...
Banyak kan? ya iyalah bukunya aja tebelnya ampun...
Hehehe...well, okeh, segitu dulu review nya...sampai ketemu di review buku yang lain ^^
Ada seorang kawan saya yang punya novel ini, menurutnya novel ini cukup fenomenal dan sempat dilarang juga diterbitkan dibeberapa negara, bahkan katanya novel ini adalah inspirasi bagi beberapa kasus pembunuhan yang terkenal, sebut saja
ketika pembunuh John Lennon, Mark David Chapman, "diciduk" polisi (apa si istilah yang tepat..?), konon kabarnya novel ini masih ada dalam genggamannya. Novel ini juga konon menjadi bahan inspirasi calon pembunuh Ronald Reagan, dan konon lagi beritanya juga oleh beberapa pembunuh berantai lain. Memangnya apa kisah yang dituturkan novel ini?
Nah karena penasaran, akhirnya pinjem lah saya novel ini, dengan kemampuan bahasa inggris yang seadanya(novel teman saya ini belum diterjemahin, jadi masih pake Bahasa Inggris),,mungkin akhirnya saya mulai memahami kenapa novel ini sangat terkenal..
Review sekilas tentang novel ini dulu yaa..:
Novel ini menceritakan Holden Caulfield, anak yang tidak lulus sekolah, namun sebenarnya cukup cerdas, terbukti ia diterima di Pencey Prep, sekolah paling favorit di Agerstown, Pensylvania. Pencey adalah kesekian kalinya yang disinggahi Holden setelah ia dikeluarkan dari sekolah-sekolah sebelumnya dengan kasus yang nyaris sama, yaitu dari 5 pelajaran yang diujikan hanya satu ujian yang lulus yaitu: Bahasa Inggris.
Peristiwa keluarnya si tokoh utama novel ini tersebut terjadi pada bulan Desember menjelang hari Natal. Sebenarnya, Holden masih punya waktu tiga hari lagi sebelum benar-benar harus hengkang dari Pencey. Namun, pertengkaran dengan teman sekamarnya, memaksa ia harus meninggalkan sekolahnya itu lebih cepat.
Dalam kegalauannya (halaah) yang tak tahu harus ke mana, ia juga gak berani pulang ke rumah, Holden lantas terdampar dari satu penginapan ke penginapan lainnya, menghabiskan sisa uang sakunya di bar dan klub-klub malam dan bertingkah layaknya seorang dewasa (yang justru buat saya pribadi membuat terharu dan kasihan).
Holden, memandang sekitarnya dengan kepekaan tinggi, namun penuh kemarahan atas segala kepalsuan orang dewasa. Ia membenci hampir semua orang dan segala hal dalam hidupnya, kecuali kedua orang adiknya: Phoebe dan Allie, yang menurutnya "murni tanpa dosa". Phoebe pulalah yang kemudian membuat Holden membatalkan niatnya untuk kabur dari rumah selamanya.
Nah yang saya coba mengerti dari novel ini adalah sebenarnya novel ini gak ada tu secara eksplisit menjelaskan cara-cara bagaimana membunuh, bahkan memotivasi seseorang menjadi pembunuh pun tidak (buktinya saya! o.O ). emang si banyak kata-kata kasar dalam novel ini, dan itu merupakan ekspresi kemarahan si Holden terhadap lingkunganny. Dalam novel ini memang terlihat jelas kemarahan dan kritik-kritik dari seorang anak muda yang merasa dirinya adalah korban dari sistem, ini yang menurut saya bisa saja menjadi pendorong pembaca yang punya masalah dan mengalami nasib yang hampir sama dengan Holden untuk melakukan hal-hal nekad. Mungkin para pembunuh yang membunuh setelah membaca novel ini adalah para pembaca yang marah, yang merasa tidak ada yang memahaminya, dan ingin mengakhiri busuknya kehidupannya dan ingin meluapkan amarahnya pada lingkungannya dan merasa harus melakukan sesuatu.
Karena sesungguhnyalah, Holden bukanlah benar-benar seorang pemarah. Ia hanya berani mengumpat dan mengomel dalam hati.
Moral of the story:
Konon, masa remaja adalah masa paling sulit dalam hidup seseorang (gak juga si..). Masa-masa labil saat seseorang mencoba menemukan identitas dan jati diri. Novel ini saya bilang sangat ekspresif memaparkan gejolak jiwa, emosi, mimpi-mimpi, serta soal betapa repotnya menjadi seorang remaja (Amerika). J.D. Salinger, sang penulis novel, juga berhasil menghidupkan karakter utama. Dan ia mengakhiri novel psikologi ini dengan sangat menyentuh, yang menimbulkan rasa haru. Novel ini juga memberi perenungan (bagi saya ) bahwa ketika kita jujur memandang dunia, ternyata ada Holden Caulfield dalam setiap diri kita. Nah tinggal bagaimana sikap kita masing-masing untuk mengatasi masalah, apakah kita juga akan terbawa emosi seperti para pembunuh-pembunuh itu?
Read More … Catcher in The Rye: Inspirasi Para Pembunuh??
ketika pembunuh John Lennon, Mark David Chapman, "diciduk" polisi (apa si istilah yang tepat..?), konon kabarnya novel ini masih ada dalam genggamannya. Novel ini juga konon menjadi bahan inspirasi calon pembunuh Ronald Reagan, dan konon lagi beritanya juga oleh beberapa pembunuh berantai lain. Memangnya apa kisah yang dituturkan novel ini?
Nah karena penasaran, akhirnya pinjem lah saya novel ini, dengan kemampuan bahasa inggris yang seadanya(novel teman saya ini belum diterjemahin, jadi masih pake Bahasa Inggris),,
Review sekilas tentang novel ini dulu yaa..:
Novel ini menceritakan Holden Caulfield, anak yang tidak lulus sekolah, namun sebenarnya cukup cerdas, terbukti ia diterima di Pencey Prep, sekolah paling favorit di Agerstown, Pensylvania. Pencey adalah kesekian kalinya yang disinggahi Holden setelah ia dikeluarkan dari sekolah-sekolah sebelumnya dengan kasus yang nyaris sama, yaitu dari 5 pelajaran yang diujikan hanya satu ujian yang lulus yaitu: Bahasa Inggris.
Peristiwa keluarnya si tokoh utama novel ini tersebut terjadi pada bulan Desember menjelang hari Natal. Sebenarnya, Holden masih punya waktu tiga hari lagi sebelum benar-benar harus hengkang dari Pencey. Namun, pertengkaran dengan teman sekamarnya, memaksa ia harus meninggalkan sekolahnya itu lebih cepat.
Dalam kegalauannya (halaah) yang tak tahu harus ke mana, ia juga gak berani pulang ke rumah, Holden lantas terdampar dari satu penginapan ke penginapan lainnya, menghabiskan sisa uang sakunya di bar dan klub-klub malam dan bertingkah layaknya seorang dewasa (yang justru buat saya pribadi membuat terharu dan kasihan).
Holden, memandang sekitarnya dengan kepekaan tinggi, namun penuh kemarahan atas segala kepalsuan orang dewasa. Ia membenci hampir semua orang dan segala hal dalam hidupnya, kecuali kedua orang adiknya: Phoebe dan Allie, yang menurutnya "murni tanpa dosa". Phoebe pulalah yang kemudian membuat Holden membatalkan niatnya untuk kabur dari rumah selamanya.
Nah yang saya coba mengerti dari novel ini adalah sebenarnya novel ini gak ada tu secara eksplisit menjelaskan cara-cara bagaimana membunuh, bahkan memotivasi seseorang menjadi pembunuh pun tidak (buktinya saya! o.O ). emang si banyak kata-kata kasar dalam novel ini, dan itu merupakan ekspresi kemarahan si Holden terhadap lingkunganny. Dalam novel ini memang terlihat jelas kemarahan dan kritik-kritik dari seorang anak muda yang merasa dirinya adalah korban dari sistem, ini yang menurut saya bisa saja menjadi pendorong pembaca yang punya masalah dan mengalami nasib yang hampir sama dengan Holden untuk melakukan hal-hal nekad. Mungkin para pembunuh yang membunuh setelah membaca novel ini adalah para pembaca yang marah, yang merasa tidak ada yang memahaminya, dan ingin mengakhiri busuknya kehidupannya dan ingin meluapkan amarahnya pada lingkungannya dan merasa harus melakukan sesuatu.
Karena sesungguhnyalah, Holden bukanlah benar-benar seorang pemarah. Ia hanya berani mengumpat dan mengomel dalam hati.
Moral of the story:
Konon, masa remaja adalah masa paling sulit dalam hidup seseorang (gak juga si..). Masa-masa labil saat seseorang mencoba menemukan identitas dan jati diri. Novel ini saya bilang sangat ekspresif memaparkan gejolak jiwa, emosi, mimpi-mimpi, serta soal betapa repotnya menjadi seorang remaja (Amerika). J.D. Salinger, sang penulis novel, juga berhasil menghidupkan karakter utama. Dan ia mengakhiri novel psikologi ini dengan sangat menyentuh, yang menimbulkan rasa haru. Novel ini juga memberi perenungan (bagi saya ) bahwa ketika kita jujur memandang dunia, ternyata ada Holden Caulfield dalam setiap diri kita. Nah tinggal bagaimana sikap kita masing-masing untuk mengatasi masalah, apakah kita juga akan terbawa emosi seperti para pembunuh-pembunuh itu?


